Cover Ebook Diuretika
Yang Apoteker Harus Tahu: Diuretika Panduan klinis praktis · Studi kasus · Cheat sheet visite
Beli Rp 75.000 →
Referensi Klinis · ICU

Antibiotik
di ICU

PK/PD-optimized dosing, terapi empiris berdasarkan fokus infeksi, TDM, extended/continuous infusion, de-eskalasi, dan peran apoteker klinis dalam antimicrobial stewardship di setting kritis.

PK/PD Dosing Beta-Laktam · EI/CI Vankomisin · TDM Aminoglikosida Terapi Empiris De-eskalasi
Bagian 01
Prinsip PK/PD Antibiotik
Dosing antibiotik di ICU tidak bisa mengikuti dosis "standar" — perubahan farmakokinetik pada pasien kritis (augmented renal clearance, third spacing, hipoalbuminemia, ECMO, CRRT) mengubah paparan obat secara signifikan.

Tiga Pola PK/PD Kill

PolaParameter TargetAntibiotikStrategi Dosing
Time-dependent%fT > MIC
Waktu kadar bebas di atas MIC
Beta-laktam (penisilin, sefalosporin, karbapenem)Frekuensi pemberian lebih sering, extended infusion (EI) 3–4 jam, atau continuous infusion (CI) 24 jam
Concentration-dependentCmax/MIC
Rasio kadar puncak terhadap MIC
Aminoglikosida, daptomisin, metronidazol, colistin (loading)Dosis tinggi, interval diperpanjang. Aminoglikosida: target Cmax/MIC ≥ 8–10
AUC/MIC-dependentAUC₂₄/MIC
Luas area di bawah kurva per 24 jam
Vankomisin, fluorokuinolon, linezolid, tigesiklinOptimasi total paparan harian. Vankomisin: target AUC₂₄/MIC 400–600

Perubahan PK pada Pasien Kritis

PerubahanMekanismeEfek pada AntibiotikImplikasi Dosing
↑ Volume distribusi (Vd)Third spacing, resusitasi cairan agresif, edema↓ Cmax obat hidrofilik (beta-laktam, aminoglikosida, vankomisin)Loading dose lebih tinggi
HipoalbuminemiaInflamasi, kebocoran kapiler↑ Free fraction obat dengan protein binding tinggi (ceftriaxone, ertapenem, daptomisin, teicoplanin)Kadar total bisa rendah tapi free drug adekuat — interpretasi TDM harus hati-hati
Augmented Renal Clearance (ARC)Hiperdinamik, pasien muda, trauma, luka bakar↑ Klirens obat eliminasi renal → kadar subterapeutikDosis lebih tinggi / interval lebih pendek / CI
AKI / CRRTPenurunan fungsi ginjal atau RRT↓ Klirens obat eliminasi renal → akumulasiPenyesuaian dosis renal + pertimbangkan efek CRRT (flow rate, filter)
ECMOSekuestrasi obat pada sirkuit + ↑VdObat lipofilik dan protein-bound tinggi lebih terpengaruhLoading dose lebih tinggi, monitor kadar ketat, TDM wajib
Peran Apoteker

Apoteker klinis ICU harus mampu mengidentifikasi pasien dengan perubahan PK yang signifikan dan merekomendasikan strategi dosing yang sesuai. ARC sering tidak terdeteksi — curigai pada pasien < 50 tahun dengan trauma, luka bakar, atau sepsis awal yang CrCl > 130 mL/min (hitung dengan Cockcroft-Gault, bukan eGFR CKD-EPI). Pasien ARC membutuhkan dosis beta-laktam yang lebih agresif.

Bagian 02
Beta-Laktam di ICU
Beta-laktam adalah time-dependent — efikasi ditentukan oleh durasi kadar bebas di atas MIC (%fT > MIC). Target minimal tradisional bervariasi per kelas (40–70% fT > MIC), tetapi pada infeksi berat di ICU — terutama pada pasien dengan syok septik, ARC, inokulum tinggi, atau patogen dengan MIC tinggi — banyak praktik klinis menargetkan hingga 100% fT > MIC atau 100% fT > 4×MIC. Target agresif ini harus disesuaikan dengan kondisi pasien, MIC lokal, dan ketersediaan TDM beta-laktam.

Extended vs Continuous Infusion

Extended Infusion (EI)
— Infus selama 3–4 jam (bukan 30 menit standar)
— Frekuensi tetap sama
— Lebih praktis — tidak perlu dedicated line
— Contoh: meropenem 2 g tiap 8 jam, infus selama 3 jam
Continuous Infusion (CI)
— Infus 24 jam non-stop setelah loading dose
— Memaksimalkan %fT > MIC mendekati 100%
— Membutuhkan dedicated line + perhatian stabilitas
— Contoh: piperasilin-tazobaktam 13,5 g/24 jam CI setelah LD 4,5 g
Evidence

Meta-analisis (Roberts et al., 2016; Falagas et al., 2013) menunjukkan asosiasi prolonged infusion beta-laktam dengan perbaikan outcome klinis pada sepsis berat/syok septik, terutama saat MIC patogen mendekati breakpoint. SSC 2021 menyarankan prolonged infusion untuk dosis maintenance beta-laktam setelah loading dose awal pada sepsis/syok septik. Strategi ini bertujuan meningkatkan probabilitas pencapaian target %fT>MIC, tetapi tetap harus mempertimbangkan stabilitas obat, akses intravena, kompatibilitas, dan fungsi ginjal.

Dosis Beta-Laktam untuk Infeksi Berat di ICU

AntibiotikIntermittent (standar)Extended InfusionContinuous InfusionStabilitas CI (25°C)
Piperasilin-Tazobaktam4,5 g tiap 6–8 jam (30 min)4,5 g tiap 6–8 jam (infus 4 jam)LD 4,5 g → 13,5–18 g/24 jam24 jam
Meropenem1–2 g tiap 8 jam (30 min)2 g tiap 8 jam (infus 3 jam)LD 2 g → 3–6 g/24 jam8 jam (kurang stabil — EI lebih dipilih)
Cefepim2 g tiap 8 jam (30 min)2 g tiap 8 jam (infus 3–4 jam)LD 2 g → 6 g/24 jam24 jam
Ceftazidim2 g tiap 8 jam (30 min)2 g tiap 8 jam (infus 3–4 jam)LD 2 g → 6 g/24 jam24 jam
Ampisilin-Sulbaktam3 g tiap 6 jam (30 min)3 g tiap 6 jam (infus 4 jam)LD 3 g → 9–12 g/24 jam8 jam (terbatas)
Doripenem500 mg tiap 8 jam (1 jam)500 mg–1 g tiap 8 jam (infus 4 jam)Tidak direkomendasikan (↑mortalitas pada studi VAP)
⚠️ Perhatian Stabilitas

Meropenem tidak stabil untuk CI penuh 24 jam pada suhu ruang — gunakan EI 3 jam sebagai gantinya, atau CI 6–8 jam dengan penggantian syringe. Ampisilin-sulbaktam juga stabilitas terbatas. Selalu verifikasi data stabilitas dengan farmasi RS masing-masing — bisa bervariasi tergantung konsentrasi dan pelarut.

Neurotoksisitas Beta-Laktam

Perhatikan risiko neurotoksisitas (kejang, myoklonus, ensefalopati) terutama pada: cefepim (paling sering — risiko meningkat pada gangguan ginjal, dosis tidak disesuaikan), meropenem/imipenem (imipenem risiko kejang lebih tinggi daripada meropenem), dan penisilin dosis tinggi. Penyesuaian dosis renal sangat penting untuk cefepim.

Bagian 03
Vankomisin
Guideline 2020 (ASHP/IDSA/SIDP/PIDS) menggeser paradigma monitoring dari trough-based ke AUC-guided dosing. Target AUC₂₄/MIC 400–600 (asumsi MIC ≤ 1 mcg/mL) berlaku terutama untuk infeksi MRSA serius (bakteremia, endokarditis, pneumonia berat, osteomielitis) — bukan untuk semua indikasi vankomisin.

Loading Dose & Maintenance

ParameterRekomendasiCatatan
Loading dose25–30 mg/kg (actual body weight)Diberikan pada infeksi serius untuk cepat mencapai target. Maks kecepatan infus 1 g/jam (cegah Red Man Syndrome). Boleh dibulatkan ke 250 mg terdekat.
Maintenance15–20 mg/kg tiap 8–12 jamBerdasarkan actual body weight. Interval tergantung fungsi ginjal. Pada ARC: interval tiap 8 jam atau bahkan tiap 6 jam.
Obesitas (BMI > 30)Gunakan actual body weight untuk LD, adjusted body weight untuk MD jika ABW sangat tinggiABW = IBW + 0,4 × (TBW − IBW). Loading dose tetap berdasarkan actual BW, maks ~3 g.

AUC-Guided Dosing (Guideline 2020)

1
Metode Bayesian (Preferred)
Menggunakan software Bayesian (PrecisePK, InsightRx, DoseMeRx) dengan minimal 1 kadar (trough atau random) untuk estimasi AUC. Lebih akurat karena menggunakan population PK priors + data individual pasien. Ini metode yang direkomendasikan oleh guideline 2020.
2
Metode Dua Kadar (First-Order PK)
Ambil peak (1–2 jam post-infus) dan trough (30 min pre-dosis), lalu hitung AUC secara manual dengan rumus trapezoid. Lebih mudah tanpa software tapi butuh 2 sampling time yang tepat.
3
Trough-Only (Jika AUC Tidak Feasible)
Jika software Bayesian dan 2 kadar tidak tersedia: trough 15–20 mcg/mL masih bisa digunakan sebagai surrogate, tapi kurang akurat untuk mencapai AUC target. Trough > 20 → risiko nefrotoksisitas meningkat signifikan.
Target AUC₂₄/MIC 400–600 (dengan asumsi MIC ≤ 1 mcg/mL via broth microdilution) Target ini berlaku untuk infeksi MRSA serius. AUC < 400 → risiko treatment failure. AUC > 600 → ↑risiko nefrotoksisitas tanpa tambahan efikasi. Jika MIC > 1 → pertimbangkan alternatif: daptomisin (BUKAN untuk pneumonia — inaktivasi oleh surfaktan paru) atau linezolid, disesuaikan dengan fokus infeksi. Pada infeksi ringan atau profilaksis, target ini tidak otomatis perlu diterapkan.
⚠️ Nefrotoksisitas
  • Risiko meningkat jika: AUC > 600, trough > 20, kombinasi dengan piperasilin-tazobaktam (vs meropenem atau cefepim), vasopressor, kontras, aminoglikosida
  • Cek kreatinin setiap 48–72 jam (tiap hari jika ICU / hemodinamik tidak stabil)
  • Nefrotoksisitas vancomycin biasanya reversibel jika terdeteksi dini
Vanko + Pip-Tazo = ↑ AKI?

Multiple meta-analisis (Luther et al., 2018; Hammond et al., 2017) menunjukkan kombinasi vancomycin + piperacillin-tazobactam dikaitkan dengan peningkatan AKI dibandingkan vancomycin + meropenem atau + cefepim. Mekanisme kemungkinan terkait interstitial nephritis. Saat ini, banyak institusi meminimalkan kombinasi ini — pertimbangkan alternatif jika memungkinkan, terutama pada pasien dengan faktor risiko nefrotoksisitas.

Bagian 04
Aminoglikosida
Concentration-dependent killing + post-antibiotic effect (PAE) yang panjang menjadi dasar once-daily dosing (extended-interval aminoglycoside dosing / EIAD). Target: Cmax/MIC ≥ 8–10.

Dosis & Strategi

ObatOnce-Daily (EIAD)ConventionalTarget Cmax/MICTarget Trough
Gentamisin5–7 mg/kg tiap 24 jam1,5–2,5 mg/kg tiap 8 jam≥ 8–10< 1 mcg/mL (EIAD); < 2 (konvensional)
Tobramycin5–7 mg/kg tiap 24 jam1,5–2,5 mg/kg tiap 8 jam≥ 8–10< 1 mcg/mL (EIAD); < 2 (konvensional)
Amikasin15–20 mg/kg tiap 24 jam7,5 mg/kg tiap 12 jam≥ 8–10< 5 mcg/mL (EIAD); < 10 (konvensional)
Once-Daily TIDAK untuk Semua

EIAD tidak digunakan pada: endokarditis, kehamilan, luka bakar > 20% TBSA, asites signifikan, CrCl < 20 mL/min, neonatus. Pada kondisi ini, gunakan conventional dosing + TDM peak & trough.

Hartford Nomogram (EIAD — 7 mg/kg Gentamisin)

Ambil kadar random 6–14 jam setelah dosis pertama. Plot pada nomogram Hartford untuk menentukan interval: tiap 24 jam (zona Q24), tiap 36 jam (zona Q36), atau tiap 48 jam (zona Q48). Jika kadar di atas zona Q48, pertimbangkan TDM konvensional.
⚠️ Toksisitas
  • Nefrotoksisitas: Terkait akumulasi di tubulus proksimal — risiko meningkat pada terapi > 7 hari, kombinasi dengan vankomisin/amfoterisin B/NSAID/kontras, dehidrasi. Monitor kreatinin tiap 48 jam.
  • Ototoksisitas: Kerusakan koklear (vestibular → gentamisin; auditori → amikasin). Irreversibel. Risiko meningkat pada terapi > 14 hari, gagal ginjal, dan penggunaan bersamaan loop diuretic (furosemid).
  • NMJ blockade: Jarang tapi bisa memperburuk kelemahan pada myasthenia gravis atau pasien yang menerima neuromuscular blocking agent.
Positioning di ICU

Pada ICU, aminoglikosida sebaiknya diposisikan sebagai terapi awal tambahan (adjunct) untuk meningkatkan probabilitas coverage Gram-negatif pada syok septik atau risiko MDR tinggi — bukan sebagai monoterapi rutin. Setelah kultur tersedia dan pasien stabil secara hemodinamik, aminoglikosida sebaiknya dihentikan sedini mungkin (umumnya 3–5 hari) untuk menurunkan risiko nefrotoksisitas dan ototoksisitas.

Bagian 05
Anti-Gram Negatif Lain
Pada infeksi Gram-negatif MDR/XDR, pemilihan antibiotik harus mempertimbangkan mekanisme resistensi (ESBL, AmpC, KPC, OXA-48, NDM/VIM/IMP, DTR Pseudomonas, CRAB), bukan hanya nama bakteri. Jika tersedia, beta-laktam/beta-laktamase inhibitor generasi baru atau cefiderocol sering lebih disukai dibanding polymyxin karena profil toksisitas yang lebih baik (IDSA 2024 AMR Guidance). Pemilihan akhir harus mengikuti antibiogram, hasil susceptibility, fokus infeksi, dan ketersediaan lokal.
Colistin (Polymyxin E)

Mekanisme: Binding ke lipid A pada membran luar → disrupsi membran. Concentration-dependent + PAE.
Formulasi: Colistimethate sodium (CMS) — prodrug, konversi lambat ke colistin aktif di tubuh.
Dosis (guideline ERS/ESCMID 2019):
Loading dose: 9 MIU (300 mg CBA) IV selama 30–60 menit
Maintenance: 4,5 MIU tiap 12 jam (total 9 MIU/hari), mulai 12 jam setelah LD
— Pada CrCl < 50: penyesuaian dosis maintenance (bukan LD)
Target Css,avg: 2 mcg/mL (batas toksik sempit)
Toksisitas utama: Nefrotoksisitas (30–60%, biasanya reversibel), neurotoksisitas (parestesia, kelemahan otot).
Kombinasi: Sering dikombinasi dengan meropenem atau tigesiklin untuk efek sinergis pada CRE/CRAB.

Ceftazidime-Avibactam

Spektrum: KPC-producing CRE, AmpC, ESBL, OXA-48 (tapi TIDAK untuk metallo-β-laktamase: NDM, VIM, IMP).
Dosis: 2,5 g (ceftazidime 2 g + avibactam 0,5 g) tiap 8 jam, infus 2 jam.
Renal: Penyesuaian signifikan pada CrCl < 50 mL/min. Dosis interval diperpanjang sampai tiap 12–48 jam.
Kelebihan: Menghindari toksisitas colistin. Mortalitas lebih rendah vs colistin-based regimen pada CRE (studi CRACKLE-2, meta-analisis Shields et al.).

Tigesiklin

Kelas: Glycylcycline (turunan minosiklin).
Spektrum: Gram-positif (termasuk MRSA, VRE), Gram-negatif MDR (termasuk CRAB), anaerob. TIDAK untuk Pseudomonas, Proteus.
Dosis standar: LD 100 mg → 50 mg tiap 12 jam.
High-dose (untuk infeksi berat/HAP): LD 200 mg → 100 mg tiap 12 jam — evidence menunjukkan high-dose diperlukan untuk mencapai target PK yang adekuat di ICU (kadar jaringan tinggi, kadar serum rendah).
Perhatian: FDA black box warning — peningkatan mortalitas pada studi meta-analisis (terutama VAP). Gunakan jika tidak ada alternatif lebih baik. Jangan monoterapi untuk bloodstream infection (kadar serum rendah).

Meropenem-Vaborbactam · Imipenem-Relebactam · Cefiderocol

Meropenem-vaborbactam (Vabomere): Efektif terhadap KPC-producing CRE. Dosis: 4 g tiap 8 jam, infus 3 jam. Vaborbactam menginhibisi KPC serin β-laktamase.

Imipenem-relebactam (Recarbrio): Efektif terhadap KPC, AmpC, OXA-48. Dosis: 1,25 g tiap 6 jam, infus 30 menit.

Cefiderocol: Siderophore cephalosporin — unik karena memanfaatkan sistem transport besi bakteri untuk penetrasi. Spektrum luas termasuk metallo-β-laktamase (NDM, VIM, IMP), KPC, OXA. Dosis: 2 g tiap 8 jam, infus 3 jam. Perhatian: Studi CREDIBLE-CR menunjukkan mortalitas numerik lebih tinggi vs BAT pada subgrup CRE tertentu — interpretasi masih diperdebatkan.

Bagian 06
Antifungal di ICU
Invasive fungal infection (IFI) di ICU membawa mortalitas 40–60%. Candida adalah penyebab tersering bloodstream infection nosokomial ke-4, dengan pergeseran ke spesies non-albicans yang resisten flukonazol.
ObatKelasDosis ICUSpektrumMonitoring/Catatan
FlukonazolAzolLD 800 mg → 400 mg/hari (candidemia) atau 200–400 mg/hari (non-invasif)C. albicans, C. parapsilosis, C. tropicalis. TIDAK C. krusei (intrinsik resisten), C. glabrata (resistensi dose-dependent → naikkan ke 800 mg)Interaksi CYP2C9, 2C19, 3A4. Hepatotoksisitas. Tidak perlu TDM rutin.
VorikonazolAzolLD 6 mg/kg tiap 12 jam × 2 dosis → 4 mg/kg tiap 12 jamAspergillus (lini pertama), Candida spp., Fusarium, ScedosporiumTDM wajib: target trough 1–5,5 mcg/mL. CYP2C19 polymorphism. Neurotoksisitas, hepatotoksisitas, visual disturbances. Formulasi IV mengandung SBECD — akumulasi pada CrCl < 50 (gunakan oral jika memungkinkan).
KaspofunginEchinocandinLD 70 mg → 50 mg/hari (70 mg jika BB > 80 kg)Candida spp. (termasuk C. glabrata, C. krusei). Aspergillus (salvage)Tidak perlu penyesuaian renal. Hepatic adjustment: Child-Pugh B → 35 mg maintenance. Interaksi minimal. Tidak aktif terhadap Cryptococcus atau Mucor.
MikafunginEchinocandin100 mg/hari (candidemia); 150 mg/hari (esofagitis)Sama dengan kaspofunginTidak perlu loading dose. Tidak perlu penyesuaian renal/hepatik. Profil interaksi lebih bersih.
Amfoterisin B lipid complex (ABLC)Poliene3–5 mg/kg/hariSpektrum paling luas — Candida, Aspergillus, Mucor/Rhizopus, Cryptococcus, endemikNefrotoksisitas (lebih rendah dari conventional AmB), hipokalemia, hipomagnesemia. Premedikasi: paracetamol + difenhidramin ± meperidin untuk rigors. Monitoring K, Mg, kreatinin harian.
Candida Empiris — Kapan Echinocandin vs Flukonazol?
  • Echinocandin (lini pertama empiris pada candidemia): pasien kritis, hemodinamik tidak stabil, riwayat azol exposure, curiga C. glabrata/C. krusei
  • Flukonazol: pasien stabil, non-neutropeni, tidak ada riwayat azol, spesies diketahui susceptible
  • Step-down: dari echinocandin ke flukonazol oral jika kultur menunjukkan C. albicans susceptible, pasien stabil, dan mampu menerima oral. Durasi candidemia: minimum 14 hari setelah kultur negatif pertama.
Bagian 07
Terapi Empiris Berdasarkan Fokus Infeksi
Pemilihan empiris harus mempertimbangkan fokus infeksi, patogen tersering, pola resistensi lokal (antibiogram), faktor risiko MDR, dan severitas sepsis. Antibiotik empiris harus diberikan dalam 1 jam pada sepsis/syok septik (SSC 2021).
⚠️ Prinsip Kritis

Pada syok septik atau sepsis dengan probabilitas infeksi tinggi, antibiotik empiris spektrum luas harus diberikan sesegera mungkin (idealnya dalam 1 jam) setelah kultur diambil, tanpa menunda terapi untuk menunggu hasil. Setiap jam keterlambatan pada syok septik dikaitkan dengan peningkatan mortalitas (Kumar et al., 2006). Pada pasien tanpa syok dan probabilitas infeksi tidak jelas, evaluasi klinis cepat tetap penting — tetapi antibiotik tidak harus diberikan refleks tanpa asesmen, untuk menghindari overtreatment.

HAP / VAP (Hospital-Acquired / Ventilator-Associated Pneumonia)

Patogen tersering: S. aureus (MSSA/MRSA), Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella, Acinetobacter, Enterobacter.

Tanpa faktor risiko MDR:
— Piperasilin-tazobaktam 4,5 g tiap 6 jam (EI 4 jam), ATAU
— Cefepim 2 g tiap 8 jam (EI 3 jam), ATAU
— Meropenem 1–2 g tiap 8 jam (EI 3 jam)

Dengan faktor risiko MDR (antibiotik IV > 5 hari, syok septik, ARDS, CRRT, resistensi tinggi di antibiogram):
— Regimen di atas + anti-MRSA (vancomycin atau linezolid) jika prevalensi MRSA > 10–20%
— ± 2 anti-Pseudomonal dari kelas berbeda jika curiga Pseudomonas MDR

Guideline ATS/IDSA 2016: Durasi 7 hari (bukan 14–21 hari). Pertimbangkan prokalsitonin untuk panduan penghentian.

Sepsis / Syok Septik (Sumber Tidak Jelas)

Prinsip: Empiris broad-spectrum yang mencakup Gram-positif, Gram-negatif, ± anaerob tergantung kecurigaan sumber.

Regimen umum:
Meropenem 1–2 g tiap 8 jam (EI) + Vancomycin (jika curiga MRSA / akses IV / SSTI), ATAU
Piperasilin-tazobaktam + Vancomycin (jika tidak curiga CRE)

Jika curiga sumber abdominal: tambahkan coverage anaerob (piperasilin-tazobaktam atau meropenem sudah mencakup; jika pakai cefepim → + metronidazol)
Jika curiga fungal (riwayat antibiotik lama, TPN, pembedahan abdomen, neutropenia): + echinocandin empiris

Infeksi Intra-Abdominal Komplikata

Patogen: E. coli, Klebsiella, Bacteroides fragilis, Enterococcus.

Community-acquired, low risk:
— Ceftriaxone 2 g/hari + metronidazol 500 mg tiap 8 jam, ATAU
— Ertapenem 1 g/hari (single agent)

Healthcare-associated / high risk:
— Piperasilin-tazobaktam 4,5 g tiap 6 jam (EI), ATAU
— Meropenem 1 g tiap 8 jam (EI)
— ± Vancomycin jika curiga Enterococcus resisten (VRE → linezolid atau daptomisin)

Durasi: 4 hari setelah source control adekuat (studi STOP-IT). Jika source control tidak tercapai → durasi lebih lama.

Infeksi Saluran Kemih Komplikata / Urosepsis

Patogen: E. coli (tersering), Klebsiella, Proteus, Enterococcus, Pseudomonas (jika kateter).

Empiris:
— Ceftriaxone 1–2 g/hari (jika ESBL risk rendah), ATAU
— Piperasilin-tazobaktam atau cefepim (jika curiga Pseudomonas), ATAU
— Meropenem (jika curiga ESBL/CRE)
— ± Ampisilin (jika curiga Enterococcus — terutama dari kultur urin)

Durasi: 7–14 hari tergantung respons. Step-down ke oral jika kultur susceptible dan klinis membaik.

Meningitis Bakterial

Patogen: S. pneumoniae, N. meningitidis, Listeria (usia > 50 atau immunocompromised), Gram-negatif (nosokomial post-neurosurgery).

Community-acquired:
Ceftriaxone 2 g tiap 12 jam + Vancomycin (sampai susceptibility diketahui)
— + Ampisilin 2 g tiap 4 jam jika curiga Listeria (usia > 50, immunocompromised, alkoholisme)
Deksametason 0,15 mg/kg tiap 6 jam × 4 hari (berikan sebelum/bersamaan dosis antibiotik pertama — manfaat terbukti terutama untuk S. pneumoniae)

Nosokomial (post-neurosurgery):
Meropenem 2 g tiap 8 jam + Vancomycin
— Atau Cefepim 2 g tiap 8 jam + Vancomycin

Catatan: Dosis antibiotik untuk meningitis lebih tinggi dari standar untuk penetrasi ke CSF.

Infeksi Kulit & Jaringan Lunak (SSTI) Berat / Necrotizing

Necrotizing fasciitis — selalu surgical emergency:
Meropenem 1–2 g tiap 8 jam + Vancomycin + Clindamycin 900 mg tiap 8 jam
— Clindamycin ditambahkan untuk efek anti-toksin (inhibisi sintesis protein → ↓produksi toksin dan superantigen) dan bekerja bahkan saat inokulum bakteri tinggi (saat beta-laktam kurang efektif karena inoculum effect / Eagle effect pada GAS)

SSTI berat non-necrotizing (MRSA):
— Vancomycin ATAU linezolid 600 mg tiap 12 jam ATAU daptomisin 6–8 mg/kg/hari

Bagian 08
De-eskalasi & Antimicrobial Stewardship
Antimicrobial stewardship di ICU bukan hanya tentang mengurangi antibiotik — tapi memastikan pasien mendapat antibiotik yang TEPAT, dosis yang TEPAT, selama durasi yang TEPAT. Apoteker klinis adalah salah satu pilar utama program ini.

Kapan & Bagaimana De-eskalasi

1
Review Kultur 48–72 Jam
Setelah hasil kultur dan sensitivitas tersedia: narrow-down spektrum ke antibiotik paling sempit yang masih efektif. Contoh: meropenem empiris → de-eskalasi ke ceftriaxone jika E. coli ESBL-negatif.
2
Evaluasi Durasi
Kebanyakan infeksi ICU memerlukan durasi lebih pendek dari praktik tradisional. Bukti terkini mendukung durasi pendek untuk banyak kondisi. Gunakan prokalsitonin (PCT) sebagai panduan tambahan — jika PCT turun ≥ 80% dari puncak atau < 0,5 ng/mL, pertimbangkan penghentian.
3
IV-to-Oral Switch
Pertimbangkan switch ke oral jika: pasien membaik secara klinis, mampu menerima oral, saluran cerna berfungsi. Antibiotik dengan bioavailabilitas oral tinggi: fluorokuinolon (~100%), linezolid (~100%), metronidazol (~100%), TMP-SMX (~95%), doksisiklin (~95%), flukonazol (~90%), klindamisin (~90%).

Durasi Berdasarkan Evidence

InfeksiDurasi TradisionalEvidence-BasedReferensi
VAP14–21 hari7 hariATS/IDSA 2016; PneumA trial (kecuali Pseudomonas non-fermenter)
cIAI (dgn source control)10–14 hari4 hariSTOP-IT trial (Sawyer et al., NEJM 2015)
ISK komplikata14 hari7 hariIDSA guideline
CAP (rawat inap)7–14 hari3–5 hari (jika stabil hari ke-3)IDSA/ATS 2019; studi PCT-guided
Bacteremia (non-complic.)14 hari7 hari (noninferior vs 14 hari)BALANCE trial (NEJM, Nov 2024)
SSTI non-necrotizing10–14 hari5–7 hariIDSA 2014
Peran Apoteker dalam Stewardship
  • Prospective audit & feedback: Review antibiotik restricted (karbapenem, vankomisin, colistin) pada 48–72 jam → rekomendasi de-eskalasi ke DPJP
  • Dose optimization: Rekomendasi EI/CI beta-laktam, AUC-guided vankomisin, renal dose adjustment
  • IV-to-oral switch: Identifikasi pasien kandidat switch, rekomendasi agen oral equipotent
  • Duration review: Flagging pasien yang melebihi durasi evidence-based
  • Antibiogram: Partisipasi dalam penyusunan dan sosialisasi antibiogram lokal
  • TDM coordination: Timing sampling, interpretasi kadar, penyesuaian dosis
Key Message

Pada pasien yang menunjukkan perbaikan klinis dan memiliki data mikrobiologi yang mendukung, de-eskalasi antibiotik umumnya aman dan tidak dikaitkan dengan perburukan outcome bila dilakukan secara terstruktur (Leone et al., 2014; Tabah et al., 2016). Keputusan de-eskalasi harus mempertimbangkan stabilitas hemodinamik, adequacy of source control, hasil kultur, fokus infeksi, dan risiko MDR. De-eskalasi juga membantu mengurangi efek samping antibiotik, risiko infeksi C. difficile, dan tekanan selektif resistensi.

Bagian 09
Checklist Antibiotik Harian
Checklist interaktif untuk apoteker klinis ICU — evaluasi antibiotik harian pada setiap pasien.

Review Antibiotik Harian

TDM & Monitoring

Stewardship Harian

Disclaimer

Referensi ini disusun sebagai panduan ringkas untuk tenaga kesehatan dan bukan pengganti penilaian klinis individual (clinical judgement). Informasi di sini tidak dimaksudkan sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan terapi. Pemilihan antibiotik empiris harus selalu mempertimbangkan antibiogram lokal, kebijakan rumah sakit, panduan PPRA/komite farmasi-terapi, dan kondisi spesifik pasien. Semua dosis harus disesuaikan dengan fungsi organ, berat badan, komorbiditas, dan interaksi obat pasien. Selalu verifikasi informasi obat dengan sumber primer terbaru dan konsultasi dengan tim interprofesional ICU.

Referensi Utama

  1. Evans, L., Rhodes, A., Alhazzani, W., et al. (2021). Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Sepsis and Septic Shock 2021. Critical Care Medicine, 49(11), e1063–e1143.
  2. Rybak, M. J., Le, J., Lodise, T. P., et al. (2020). Therapeutic Monitoring of Vancomycin for Serious Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus Infections: A Revised Consensus Guideline. American Journal of Health-System Pharmacy, 77(11), 835–864.
  3. Roberts, J. A., Abdul-Aziz, M. H., Davis, J. S., et al. (2016). Continuous versus Intermittent β-Lactam Infusion in Severe Sepsis: A Meta-analysis of Individual Patient Data. Clinical Infectious Diseases, 63(4), 525–532.
  4. Kumar, A., Roberts, D., Wood, K. E., et al. (2006). Duration of Hypotension Before Initiation of Effective Antimicrobial Therapy is the Critical Determinant of Survival in Human Septic Shock. Critical Care Medicine, 34(6), 1589–1596.
  5. Tamma, P. D., Aitken, S. L., Bonomo, R. A., et al. (2024). Infectious Diseases Society of America 2024 Guidance on the Treatment of Antimicrobial-Resistant Gram-Negative Infections. Clinical Infectious Diseases.
  6. Kalil, A. C., Metersky, M. L., Klompas, M., et al. (2016). Management of Adults with Hospital-Acquired and Ventilator-Associated Pneumonia: 2016 Clinical Practice Guidelines by the IDSA and ATS. Clinical Infectious Diseases, 63(5), e61–e111.
  7. Sawyer, R. G., Claridge, J. A., Nathens, A. B., et al. (2015). Trial of Short-Course Antimicrobial Therapy for Intra-Abdominal Infection (STOP-IT). New England Journal of Medicine, 372(21), 1996–2005.
  8. Daneman, N., Gabe, C., Engel, A., et al. (2024). Antibiotic Treatment for 7 versus 14 Days in Patients with Bloodstream Infection (BALANCE). New England Journal of Medicine.
  9. Nation, R. L., Garonzik, S. M., Thamlikitkul, V., et al. (2019). Dosing Guidance for Intravenous Colistin in Critically-Ill Patients. Clinical Infectious Diseases, 64(5), 565–571.
  10. Pappas, P. G., Kauffman, C. A., Andes, D. R., et al. (2016). Clinical Practice Guideline for the Management of Candidiasis: 2016 Update by the IDSA. Clinical Infectious Diseases, 62(4), e1–e50.
  11. Leone, M., Bechis, C., Baumstarck, K., et al. (2014). De-escalation versus Continuation of Empirical Antimicrobial Treatment in Severe Sepsis. Intensive Care Medicine, 40(10), 1399–1408.
  12. Patterson, T. F., Thompson, G. R., Denning, D. W., et al. (2016). Practice Guidelines for the Diagnosis and Management of Aspergillosis: 2016 Update by the IDSA. Clinical Infectious Diseases, 63(4), e1–e60.